Namun, minum tidak selalu digambarkan dengan ketenteraman seperti itu. Para juru tulis Mesir memperingatkan bahwa minuman dapat mendatangkan penghinaan, cedera, dan pengabaian kewajiban.[9][10] Di sisi lain, sebuah prasasti kerajaan menamai serambi kemabukan yang dipersembahkan kepada seorang dewi, sedangkan sebuah nyanyian mengungkapkan keinginan untuk mabuk demi menghormatinya.[12] Alkohol dengan demikian dapat menjadi bagian dari kehidupan yang didambakan, diakui sebagai sumber bahaya, dan sengaja dicari dalam pemujaan.
Makam dan kuil di sekitar Thebes—wilayah Luxor sekarang—menyimpan pandangan yang saling bertentangan itu dari masa Kerajaan Baru, sekitar 1550–1070 SM. Bersama nasihat sastra dan catatan desa yang terfragmentasi, bukti tersebut mendekatkan kita kepada orang-orang yang membuat, berbagi, menikmati, dan menilai minuman. Setiap jenis sumber memperlihatkan sisi yang berbeda: persediaan untuk akhirat, percakapan yang disusun untuk makam, teguran kepada murid, sumbangan bagi pertemuan bersama, mitos tentang dewi, dan ungkapan keinginan dalam nyanyian keagamaan.
Alkohol sebagai bagian dari kehidupan yang didambakan
Bir sebagai bekal sehari-hari
Sekitar enam abad sebelum perjamuan Nebamun, bir telah memperoleh tempat dalam gambaran kehidupan nyaman sesudah kematian. Sekitar 1980 SM, sebuah model miniatur toko roti dan tempat pembuatan bir ditempatkan di makam Meketre, seorang pejabat kerajaan, di Thebes. Di dalam bangunan kayu yang panjangnya kurang dari satu meter, figur-figur bercat menghancurkan dan menggiling biji-bijian, sementara figur lain bekerja di dekat tong dan tempayan. Roti dan bir dibuat di ruang yang berdampingan.[2]
Pembuatan bir bergantung pada orang-orang yang menyiapkan biji-bijian, merawat campuran, dan mengisi wadah. Kenyamanan Meketre ditopang oleh pekerjaan mereka. Model itu merepresentasikan tempat kerja dalam ukuran kecil agar dapat ditempatkan bersama Meketre di makam, sekaligus menggambarkan para pekerja tetap menjalankan tugas mereka sebagai bagian dari susunan akhirat sang pejabat.
Bersama roti, bir tampil sebagai persediaan yang diperkirakan akan dibutuhkan Meketre dan perlu dijaga agar terus tersedia. Kedudukannya di antara kebutuhan bagi akhirat yang nyaman lebih menunjukkan keadaan berkecukupan daripada hasrat untuk mabuk. Dalam model tersebut, nilai bir terletak pada ketersediaannya sebagai bekal dan pada kerja teratur yang memungkinkan persediaan itu terus ada.
Sumber kenikmatan
Di makam Paheri di Elkab, dari abad ke-15 SM, minuman memperoleh kehidupan sosial yang lebih riuh. Teks perjamuan menggambarkan Amen-sat menolak minuman, lalu seorang pelayan mendorongnya untuk merayakan dan minum sampai mabuk. Seorang tamu lain meminta delapan belas cawan anggur dan menyatakan bahwa ia ingin mabuk karena bagian dalam tubuhnya sekering jerami. Di tempat lain, seorang pelayan terus membujuk peminum yang enggan, sementara temannya meminta agar ia tidak merusak hiburan.[3]
Percakapan itu disusun untuk makam, bukan percakapan yang didengar langsung dan kemudian dicatat. Demikian pula, delapan belas cawan adalah jumlah yang diminta, bukan jumlah yang terbukti diminum. Walaupun demikian, kata-kata yang dipilih bagi para tamu memperlihatkan cara minum ditempatkan dalam gambaran sebuah perjamuan. Di sekitar mereka terdapat pemusik, penari, dan perempuan yang bertepuk tangan. Anggur hadir bersama musik dan tarian; sebagian tamu bersemangat meminumnya, sedangkan yang lain enggan.[3]
Menawarkan anggur merupakan tindakan keramahan, tetapi adegan itu juga memperlihatkan bahwa tawaran dapat sulit ditolak. Kegigihan pelayan menjadikan minum sebagai persoalan sikap terhadap kelompok. Menerima cawan dapat ditampilkan sebagai cara bergabung dalam kesenangan bersama, sementara penolakan berisiko dianggap mengganggu suasana. Namun, suara penolakan tetap disertakan. Para tamu tidak semuanya dibuat menyatakan selera yang sama.
Perempuan yang meminta delapan belas cawan bahkan tidak memerlukan bujukan. Ia secara terbuka menyatakan ingin mabuk. Dalam adegan makam yang dipesan itu, keinginan tersebut ditempatkan bersama musik dan pergaulan, bukan sebagai gangguan terhadap hiburan. Kemabukan dapat menjadi hasrat yang diucapkan dengan penuh semangat dalam gambaran kesenangan sosial.
Keriuhan percakapan tidak membuat perjamuan itu bebas dari tatanan sosial. John Baines mencatat bahwa beberapa tamu diidentifikasi sebagai orang yang telah meninggal. Peringkat mereka ditandai melalui ukuran figur dan cara duduk: orang yang memiliki hak istimewa duduk di kursi, sedangkan yang lain duduk di atas tikar dalam kelompok yang dipisahkan menurut gender. Anggur beredar dalam gambaran masyarakat yang tetap mementingkan peringkat, keluarga, dan kehadiran orang mati.[8]
Jika model Meketre menjamin pasokan bir, adegan Paheri membuat minum memperoleh kehidupan sosial bersama kerabat, pelayan, dan penghibur. Bukan hanya anggur yang ingin dipertahankan di dalam makam, melainkan juga kebersamaan yang memberinya arti. Kenikmatan itu berlangsung di dalam hubungan sosial yang dapat menyambut, membujuk, membedakan kedudukan, dan memberi ruang bagi penolakan.
Minum bersama
Deir el-Medina adalah desa dekat Thebes yang dihuni para pekerja yang membangun dan menghias makam kerajaan.
Catatan dari Deir el-Medina memperlihatkan sebuah pertemuan desa, berbeda dari adegan perjamuan yang disusun untuk makam. Sebuah prasasti yang bertahan dalam beberapa fragmen yang kemudian disatukan mencatat kontribusi bagi pesta minum yang terkait dengan Hathor. Berasal dari abad ke-12 SM dan dikaitkan dengan masa pemerintahan Ramesses III atau Ramesses IV, daftar itu dimulai dengan sumbangan seorang perempuan bernama Isis. Sedikitnya tiga puluh tiga perempuan dan tiga laki-laki disebutkan. Roti termasuk di antara sumbangan mereka, sering kali sebanyak lima atau sepuluh buah dari satu orang.[5][15]
Tidak diketahui secara pasti pada kesempatan apa pesta tersebut diadakan. Identitas Hathor dalam catatan itu pun diperdebatkan: nama tersebut dapat merujuk kepada sang dewi, tetapi Heidi Jauhiainen lebih memilih penafsiran bahwa Hathor adalah seorang perempuan karena namanya disertai tanda figur perempuan duduk.[4][15] Daftar penyumbang juga tidak menunjukkan siapa yang benar-benar menghadiri pertemuan atau apakah seseorang menjadi mabuk. Nilai khas catatan itu terletak di tempat lain. Ia memperlihatkan apa yang diberikan orang untuk sebuah pertemuan minum bersama, dan menghadirkan kelompok melalui nama serta kontribusi, bukan melalui ujaran yang dipilihkan bagi tamu-tamu makam.
Dampak kemabukan yang meresahkan
Akibat minum berlebihan yang tampak pada tubuh
Kesenangan perjamuan juga dapat menghadirkan tubuh yang kehilangan kendali. Sebuah detail dari makam Amenemhat di Thebes, sekitar 1479–1425 SM, memperlihatkan seorang tamu muntah ke dalam tempayan. Katalog Metropolitan Museum of Art, Drink and Be Merry!, mengidentifikasi keadaan itu sebagai akibat konsumsi alkohol berlebihan.[7]
Muntah dalam adegan perjamuan mudah dibaca sebagai peringatan, tetapi bukan itu satu-satunya kemungkinan. Dalam perjamuan lain, di makam Djeserkareseneb sekitar 1400 SM, seorang laki-laki muntah ke dalam wadah yang tampaknya disediakan untuk keperluan tersebut. Baines mengemukakan bahwa perilaku semacam itu mungkin diterima dalam kesempatan tersebut dan bahwa penggambarannya bahkan dapat menambah unsur humor. Kontras antara pose para tamu yang terkendali dan akibat minum yang lebih berantakan mungkin tidak dimaksudkan untuk dipandang sepenuhnya serius.[8]
Jika pembacaan itu benar, tamu yang muntah tetap menjadi bagian dari adegan yang merayakan kesenangan bersama. Hilangnya kendali tubuh dapat diakui dan mungkin dianggap lucu tanpa menjadikan seluruh pertemuan sebagai pelajaran yang menentang minum. Wadah yang disediakan menempatkan akibat berantakan tersebut di dalam perayaan sebagaimana digambarkan oleh pelukis. Menggambarkan ekses tidak selalu berarti mengecamnya, meskipun kemungkinan adanya humor juga tidak menjadikan perilaku itu terpuji.
Pertimbangan dan martabat
Nasihat sastra menempatkan akibat minum dalam kerangka yang lebih tegas. Instruction of Ani menasihati pembacanya agar tidak minum bir secara berlebihan. Teks itu memperingatkan bahwa kata-kata tercela dapat keluar tanpa disadari, peminum dapat jatuh dan terluka, dan tidak seorang pun akan mengulurkan tangan. Bahkan teman-teman minumnya menjauh.[9]
Peringatan tersebut membahas kerentanan sekaligus perilaku buruk. Ucapan peminum, keadaan tubuhnya, dan tanggapan orang lain sama-sama menjadi sumber kekhawatiran. Kebersamaan yang membuat minum menarik ternyata tidak dapat diandalkan ketika pertolongan dibutuhkan. Jika adegan Paheri memperlihatkan pelayan dan teman yang mendesak seseorang agar ikut menikmati minuman, Ani membayangkan saat ketika kelompok itu tidak lagi memberi perlindungan. Berbagi minuman tidak menjamin bantuan.
Manuskrip Boulaq yang masih bertahan berasal dari Dinasti Kedua Puluh Satu, sekitar abad ke-11–10 SM, meskipun komposisi Instruction of Ani diperkirakan lebih awal. Karya itu termasuk dalam tradisi pengajaran mengenai cara hidup dan berperilaku, bukan daftar kejadian minum yang benar-benar berlangsung. Pengarangnya memilih hasil-hasil yang mengkhawatirkan agar nasihat tersebut meyakinkan.[9] Karena itu, teks ini memperlihatkan cara ekses dapat dijadikan dasar pertimbangan moral: peminum kehilangan kendali atas kata-kata dan tubuhnya, lalu mendapati bahwa hubungan sosial di sekelilingnya tidak memberi pertolongan.
Tanggung jawab yang terabaikan
Sekitar 1200 SM, teguran dalam Papyrus Anastasi IV mengarahkan kritik serupa kepada seorang murid juru tulis. Sang murid dituduh meninggalkan kegiatan menulis demi kesenangan dan berkeliaran dengan bau bir. Ia dibandingkan dengan kapal yang perangkat kemudinya rusak, sebuah gambaran yang menyatakan bahwa ia tidak lagi mengarahkan dirinya sebagaimana mestinya.[10]
Pembicara mengecam anggur dan mendesak murid itu meninggalkan minuman. Nada nasihat tersebut jauh lebih tak kenal kompromi daripada undangan yang tertulis pada dinding makam Paheri.[10] Bagi tamu perjamuan, minum dapat berarti bergabung dalam hiburan; bagi calon juru tulis, kebiasaan yang sama digambarkan telah menggantikan disiplin yang dituntut oleh pendidikannya.
Teguran itu merupakan karya sastra, bukan berkas disipliner yang masih bertahan tentang seorang murid tertentu. Namun, harapan terhadap pendidikan juru tulis menjelaskan kerasnya kritik. Kemampuan menulis menuntut latihan, pengendalian diri, dan perhatian. Hal yang dicari oleh tamu Paheri sebagai kesenangan ditampilkan oleh sang penegur sebagai cara menyia-nyiakan kemampuan.
Perbedaan tersebut juga membantu menjelaskan mengapa hilangnya kendali dapat berfungsi secara berlainan dalam sumber-sumber Mesir. Dalam gambar perjamuan, tubuh yang tidak terkendali mungkin menjadi bagian dari humor; dalam teguran, keadaan serupa menjadi unsur tuduhan, dan murid disuruh berubah. Ani menjadikan ucapan tak terkendali, cedera, dan ditinggalkan oleh teman sebagai alasan untuk takut pada ekses. Orang dapat menganggap keadaan peminum lucu sekaligus mengakui daya kritiknya. Humor dan ketidaksetujuan tidak harus berlawanan; perbedaannya terletak pada apakah penderitaan peminum dipakai sebagai alasan untuk mengubah perilakunya.
Makna religius kemabukan
Kemabukan menyelamatkan umat manusia
Dalam kisah yang lazim disebut Destruction of Mankind, manusia memberontak terhadap Ra, dewa matahari yang telah menua. Ra mengutus putrinya, Hathor, untuk menghukum para pemberontak. Namun, ketika ingin menyelamatkan mereka yang masih hidup, ia memerintahkan agar bir dicampur dengan oker merah dan disebarkan di tanah. Hathor meminum cairan berwarna darah itu hingga mabuk, lalu pembunuhan berhenti.[11]
Episode tersebut merupakan bagian dari Book of the Heavenly Cow. Versi paling lengkap yang masih bertahan dituliskan di makam Firaun Seti I pada abad ke-13 SM. Peristiwanya berlangsung dalam waktu ilahi, sementara kisah yang lebih luas menjelaskan pemisahan para dewa dari manusia dan penataan ulang kosmos.[11]
Bagi manusia yang terancam oleh Hathor, kemabukan sang dewi membawa penangguhan hukuman. Bir mengubah keadaannya dan sekaligus mengubah nasib manusia setelah perintah awal Ra untuk menghukum berkembang menjadi bahaya bagi mereka yang masih hidup. Hilangnya kendali yang ditakuti dalam nasihat juru tulis memperoleh tujuan penyelamatan dalam kisah ini: kemabukan menghentikan dewi berbahaya agar tidak terus mencelakai. Mitos itu bukan catatan sebuah upacara minum manusia, melainkan uraian religius tentang perubahan keadaan ilahi yang menyelamatkan umat manusia.
Tempat suci untuk mabuk
Bukti material dari kuil Mut di Karnak selatan membawa kemabukan dari dunia mitos ke dalam arsitektur kerajaan. Antara 2004 dan 2007, ekspedisi Johns Hopkins University dan Mesir menemukan potongan tiang batu di bawah sisi barat kuil. Fragmen-fragmen itu berasal dari bangunan sekitar 1470-an SM yang berhubungan dengan Hatshepsut dan Thutmose III. Dalam terjemahan Betsy Bryan, dedikasinya menyatakan bahwa Hatshepsut membuat bagi Mut sebuah serambi berkolom yang disebut “serambi kemabukan”.[12]
Yang bertahan bukan aula utuh yang memungkinkan arkeolog merekonstruksi sebuah festival, melainkan fragmen arsitektur dengan nama yang mencolok. Meskipun terbatas, dedikasi kerajaan tersebut memberi kemabukan suatu tempat di kuil sang dewi. Berbeda dari teguran kepada murid, prasasti itu tidak memakai kemabukan untuk menggambarkan aib. Ia menghubungkannya dengan sesuatu yang dianggap layak disediakan seorang penguasa bagi dewa.
Dewi yang dihormati di serambi itu adalah Mut, bukan Hathor dalam Destruction of Mankind. Mut berhubungan erat dengan Sakhmet yang berkepala singa, dewi dengan kekuatan yang dapat mencelakai sekaligus melindungi. Banyak patung Sakhmet yang dibuat pada masa Amenhotep III pada abad ke-14 SM telah ditafsirkan sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk menenangkannya.[13]
Nama serambi tidak menjelaskan upacara yang berlangsung di sana. Sebuah kalender festival dari zaman Ptolemaik, lebih dari satu milenium setelah Hatshepsut, menggambarkan bir berwarna merah yang menggembirakan hati Mut dan meredakan kemarahannya. Seperti dalam mitos, bir berwarna membantu menenangkan dewi berbahaya. Namun, kalender yang jauh lebih muda itu tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang rangkaian upacara di serambi Hatshepsut. Bangunan Hatshepsut lebih tua daripada salinan-salinan Book of the Heavenly Cow yang masih bertahan, meskipun kisahnya sendiri mungkin lebih tua lagi. Mitos itu juga tidak membuktikan bahwa suatu upacara di serambi tersebut mementaskan kembali kisahnya.[11][12] Hubungan antarsumber ini bersifat tematis, sedangkan konteks, masa, dan jenis buktinya tetap berbeda.
Minum bersama dalam perayaan keagamaan
Sebuah nyanyian dalam makam Horemheb di Thebes memberi tempat bagi suara manusia yang menginginkan kemabukan dalam perayaan keagamaan. Horemheb ini adalah juru tulis militer yang hidup pada masa Thutmose IV dan dimakamkan di TT78 pada awal abad ke-14 SM, bukan firaun kemudian yang bernama sama. Nyanyian itu menggambarkan perayaan, kegiatan berhias, dan kegembiraan. Dalam terjemahan Betsy Bryan, bagian tentang kembalinya Mut menyebut para pemain sistra yang menginginkan kemabukan dari piala emas.[12]
Sistra merupakan alat musik ritual sejenis kerincingan yang dimainkan dengan cara digoyangkan.[14] Ajakan untuk berhias dan bergabung dalam perayaan dengan sukacita memberi konteks bagi keinginan para pemain musik. Kemabukan tidak hanya muncul sebagai akibat tersedianya minuman dalam sebuah pertemuan keagamaan. Nyanyian itu menggambarkannya sebagai keadaan yang dinantikan ketika sang dewi kembali.
Bryan menafsirkan nyanyian semacam itu sebagai bukti bahwa orang mencari perjumpaan dengan dewi dan, dalam perayaan pemakaman, dengan orang mati melalui kemabukan. Dalam pembacaan tersebut, mabuk dapat membuka kemungkinan untuk mendekati sosok yang berada di luar jangkauan manusia sehari-hari, bukan sekadar kesenangan bersama. Keadaan kesadaran yang berubah dapat membantu memenuhi aspirasi religius, berbeda dari gangguan terhadap kewajiban sehari-hari yang dikecam dalam teguran kepada murid. Ini tetap merupakan penafsiran Bryan mengenai harapan para peraya, bukan catatan pengalaman pribadi setiap peserta.[12]
Nyanyian TT78 menyediakan ungkapan keinginan manusia, mitos menggambarkan seorang dewi yang mabuk, dan dedikasi Hatshepsut menamai sebuah bangunan. Ketiganya bukan gambaran tentang satu upacara yang sama; nyanyian itu pun tidak menyebut serambi Hatshepsut sebagai latarnya. Kekuatan sumber-sumber tersebut justru terletak pada perbedaan cara mereka menghubungkan kemabukan dengan kuasa ilahi dan harapan manusia. Bersama-sama, semuanya memberi kemabukan tempat dalam kehidupan religius yang tidak akan terlihat jika perhatian hanya diarahkan pada peringatan terhadap ekses.
Pemujaan juga mempertemukan orang. Musik dimainkan dan minuman disajikan; kesenangan bersama dapat menyertai harapan memperoleh kemurahan sang dewi. Mencari kedekatan dengan dewi dan menikmati kehadiran orang lain tidak harus menjadi tujuan yang saling bersaing. Prosesi festival bahkan dapat membawa citra ilahi keluar dari ruang suci yang terbatas untuk menyusuri rute yang dapat diakses oleh masyarakat yang lebih luas, meskipun ruang dalam kuil tetap tertutup bagi kebanyakan orang.[7]
Namun, tidak semua suara dari masa itu sampai kepada kita. Model Meketre menunjukkan para pembuat bir bekerja tanpa menyampaikan pikiran mereka tentang bir. Kata-kata tamu Paheri dipilihkan bagi mereka, sedangkan murid juru tulis hanya menerima teguran tanpa kesempatan menjawab. Fragmen Deir el-Medina memberi sekilas pandang tentang pertemuan lain melalui nama dan kontribusi. Banyak orang yang membuat, menyajikan, dan berbagi minuman tidak meninggalkan kesaksian yang sampai kepada masa kini.
Menghadapi pengaruh alkohol
Cawan yang ditawarkan kepada Nebamun menjanjikan kesenangan dan kebersamaan. Bagi murid juru tulis, kehilangan kendali diri berarti gagal memenuhi harapan yang dibebankan kepadanya. Dalam nyanyian kepada Mut, sebaliknya, keinginan untuk mabuk menjadi bagian dari perayaan sang dewi. Ketiga sumber itu menempatkan minuman dalam hubungan dan tuntutan yang berlainan.
Peringatan tentang cedera, penghinaan, serta tanggung jawab yang ditinggalkan tetap kuat di samping nyanyian keagamaan. Nasihat sastra membayangkan peminum terputus dari pertolongan, sedangkan pembacaan Bryan atas nyanyian menemukan orang-orang yang berharap mendekati yang ilahi. Dengan demikian, perubahan kesadaran yang membuat kemabukan meresahkan dalam satu konteks dapat menjadi alasan untuk mencarinya dalam pemujaan. Minuman yang sama dapat menopang kehidupan yang didambakan, memperlihatkan kerentanan tubuh dan hubungan sosial, atau membuka kemungkinan perjumpaan religius.
Referensi
- The Metropolitan Museum of Art. Nebamun Receiving Wine, 30.4.106. Nina de Garis Davies, faksimile tahun 1916; karya asli di TT181, sekitar 1386–1330 SM. Catatan objek. Ajakan pada pembukaan mengikuti terjemahan bahasa Inggris dari museum.
- The Metropolitan Museum of Art. Model Bakery and Brewery from the Tomb of Meketre, 20.3.12, sekitar 1981–1975 SM. Catatan objek.
- Tylor, J. J., and F. Ll. Griffith. The Tomb of Paheri at El Kab. London: Egypt Exploration Fund, 1894, pp. 23–26, terutama hlm. 25, pelat VII. Diterbitkan bersama Ahnas el Medineh karya Édouard Naville. Edisi dalam koleksi universitas.
- Donker van Heel, Koenraad. “Women Can Party Too.” In Mrs. Naunakhte & Family: The Women of Ramesside Deir al-Medina. Cairo: American University in Cairo Press, 2016, pp. 137–148. Ringkasan penerbit, yang menguraikan beberapa penafsiran berbeda tentang pertemuan tersebut.
- Demarée, Rob, Kathrin Gabler, and Stéphane Polis. “A family affair in the community of Deir el-Medina: gossip girls in two 19th dynasty letters.” In Svenja A. Gülden, Tobias Konrad, and Ursula Verhoeven, eds., Ägyptologische „Binsen“-Weisheiten IV: Hieratisch des Neuen Reiches: Akteure, Formen und Funktionen. Stuttgart: Franz Steiner Verlag, 2022, pp. 43–126, terutama hlm. 105 dan catatan 195–196. Catatan repositori institusi; artikel akses terbuka. Ostrakon yang disatukan: O. Cairo CG 25705 + O. IFAO 1322 + O. Varille 38 + O. DeM 10363.
- The Metropolitan Museum of Art. Women at a Banquet, 30.4.78. Nina de Garis Davies, faksimile tahun 1925; karya asli di makam Rekhmire, TT100, sekitar 1479–1425 SM. Catatan objek.
- Stünkel, Isabel. Drink and Be Merry!. Katalog penataan bergilir koleksi, 2019–2021. The Metropolitan Museum of Art. Katalog, terutama hlm. 1 tercetak / hlm. 6 PDF.
- Baines, John. “Not Only with the Dead: Banqueting in Ancient Egypt.” Studia Universitatis Babeş-Bolyai, Historia, 2014, pp. 1–34, terutama hlm. 8–9. Catatan Oxford Research Archive; salinan artikel yang dapat diakses.
- Dils, Peter. Die Lehre des Ani, papyrus Boulaq 4, versi B. Thesaurus Linguae Aegyptiae. Teks dan informasi manuskrip; 17.6–17.9, kalimat 83–90. Uraian bahasa Indonesia mengikuti parafrasa bahasa Inggris atas terjemahan bahasa Jerman dalam korpus.
- Dils, Peter. Vorwürfe an einen Schreibschüler mit zügellosem Verhalten, Papyrus Anastasi IV, recto 11.8–12.5, British Museum EA10249. Thesaurus Linguae Aegyptiae. Teks dan informasi manuskrip; terjemahan per kalimat, terutama 11.8–12.2. Uraian bahasa Indonesia mengikuti parafrasa bahasa Inggris atas terjemahan bahasa Jerman dalam korpus.
- Guilhou, Nadine. “Myth of the Heavenly Cow.” UCLA Encyclopedia of Egyptology, 2010. Kajian, sumber teks, dan edisi ilmiah, terutama pembahasan narasi dan ritual.
- Bryan, Betsy M. The Altered State of Religion: Sekhmet and Ritual Revelries in the Reign of Amenhotep III. Kuliah di American Research Center in Egypt, 30 September 2020. Transkrip, PDF hlm. 2–4 tentang prasasti kuil Mut dan kalender festival yang lebih muda, serta hlm. 8 tentang nyanyian Horemheb. Nyanyian TT78 mengikuti terjemahan Bryan atas teks yang diterbitkan oleh Annelies dan Artur Brack, Das Grab des Haremheb: Theben Nr. 78, 1980, pelat 32a.
- The Metropolitan Museum of Art. Statue of the Goddess Sakhmet, 15.8.2, masa pemerintahan Amenhotep III, sekitar 1386–1347 SM. Catatan objek.
- The Metropolitan Museum of Art. Arc sistrum of Tapenu, chantress of Sobek of Khenyt, 68.44. Catatan objek dan penjelasan alat musik.
- Jauhiainen, Heidi. “Do Not Celebrate Your Feast Without Your Neighbours”: A Study of References to Feasts and Festivals in Non-Literary Documents from Ramesside Period Deir el-Medina. Disertasi doktoral, Universitas Helsinki, 2009, hlm. 259 dan 281. Catatan universitas; disertasi lengkap.
- Wilkinson, John Gardner. Manners and Customs of the Ancient Egyptians, vol. II. London, 1837, p. 167, cukilan kayu 146–147. Edisi asli dan keterangan domain publik. Direproduksi dalam Henry Frederick Lutz, Viticulture and Brewing in the Ancient Orient (Leipzig: J. C. Hinrichs, 1922), p. 99, gambar 22–23. Sumber reproduksi yang dipotong.
Keempat ilustrasi Metropolitan Museum ditandai sebagai domain publik dalam catatan objek museum dan tersedia berdasarkan kebijakan akses terbuka / CC0. Gambar historis berdasarkan Wilkinson merupakan reproduksi domain publik yang diberi kredit tersendiri.